I used to be one. Beneran lho, dan aku melakukannya tanpa sadar. Being invisible itu nggak enak sama sekali. Kamu menyaksikan orang-orang populer itu terlihat bahagia dan hidup di dunianya yang terukir sempurna. Tiba-tiba saja aku merasakan gelombang emosi bernama rasa iri.Nggak enak banget. Dan, parahnya lagi, aku mulai membenci mereka tanpa alasan. Hanya karena hidup kita membosankan, aku menginginkan orang lain merasakan pahit yang serupa denganku.
Nggak begitu ingat deh gimana proses perubahannya. Tapi yang jelas, aku ingat betul gumaman Cady Heron di 'Mean Girls' tentang ini. Menganggap orang lain jelek bukan berarti kita malah bertambah cantik. Mengomentari betapa buruknya make-up cewek A nggak lantas membuat kemampuan berdandanku jadi selevel Gusnaldi. Jadi aku berhenti. Berhenti menjadi bitter bitch dan berusaha melepaskan diri dari rasa iri yang selama ini kubiarkan saja tumbuh dalam diriku. Kalau dipikir-pikir, lumayan buang-buang waktu dan energi, lho. Aku nggak berhenti mendongak ke arah orang yang kuanggap 'lebih' dan seperti nggak bosen-bosennya mengeluhkan hal-hal yang nggak bisa kumiliki. Pada akhirnya, aku sadar aku nggak maju ke mana-mana dengan perasaan negatif itu.
Kalau ditanya sekarang sih, aku pasti bilang bagian paling menyenangkan saat berhenti jadi hater adalah tak terbeban saat melihat orang lain bahagia. Mengucapkan selamat dan bertepuk tangan untuknya ternyata mengalirkan rasa bahagia yang sama besarnya ke dalam diri kita. It's relieving, yet relaxing. Ahhh... jadi terpikir menonton DVD Mean Girls lagi...
Finishh...!!
Shalimar Subagja..
Salam, Inna :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar